Oleh: achmadsolechan | Agustus 18, 2015

Perjalanan terberat dan terjauh bagi lelaki

perjalanan terberat

Untukmu anakku

Tahukah kamu nak…

Perjalanan terjauh dan terberat bagi seorang lelaki adalah perjalanan ke masjid

Sebab banyak orang kaya tidak sanggup mengerjakannya.

Jangankan sehari lima waktu, bahkan banyak pula yang seminggu sekali pun terlupa, tidak jarang pula seumur hidup  tidak pernah singgah ke sana.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid

Karena orang pintar dan pandai pun sering tidak mampu menemukannya.

Walaupun mereka mampu mencari ilmu hingga ke universitas Eropa ataupun Amerika, mudah melangkahkan kaki ke Jepang, Australia dan Korea dengan semangat yang membara.

Namun ke masjid tetap  saja perjalanan yang tidak mampu mereka tempuh walau telah bertitel S3

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid

Karena para pemuda yang kuat dan bertubuh sehat yang mampu menaklukkan puncak gunung Bromo dan Merapi pun sering mengeluh ketika  diajak ke masjid. Alasan mereka pun beragam, ada yang berkata sebentar lagi, ada yang berucap tidak nyaman di cap alim.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid

Maka berbahagialah dirimu wahai anakku…bila sejak kecil engkau telah terbiasa melangkahkan kaki ke masjid, karena bagi kami, sejauh manapun engkau melangkahkan kaki, tidak ada tidak ada perjalanan perjalanan yang paling kami banggakan selain perjalananmu ke masjid

Biar aku bertahu rahasia kepadamu, sejatinya perjalannmu ke masjid adalah perjalanan untuk menjumpai Robbmu. Itulah perjalanan yang diajarkan oleh Nabi mu serta perjalanan yang akan membedakanmu dengan orang-orang yang lupa akan Robbnya.

Perjalanan terjauh dan terberat itu adalah perjalanan ke masjid

Maka lakukanlah walaupun engkau harus merangkak dalam gelap shubuh demi mengenal Robbmu.

 

For  my child, do yau know, child

The farthest and the hardest journey for a man is the journey  to the mosque

That many men are not able to do it

Let alone to do it five times a day

Even to do  it once a week is dificult for many

And some men never even do it in their entire life time

The farthest and the hardest journey for a man is the journey  to the mosque

That even many smart and knowledgeable men cannot do it

Although they manage to seek knowledge going to universities in Europe or America

Although it s easy for them to swing their legs to Japan, Australia, and Korea with all their enthuasiasm

Yet they do not manage to go to the mosque despite their titles and degree

The farthest and the hardest journey for a man is the journey  to the mosque

That even the tough guys who conquer Mount Bromo and Mount Merapi

Often complain when they are asked to go to the mosque

Their execuses are various

Some simply say “I will join you in a moment”

Some say “it is inconvenient to be labeled as ‘alim’

The farthest and the hardest journey for a man is the journey  to the mosque

Thus you should be happy my child if you are already accustomed to go to the mosque

Because for us no matter how far you go on a journey

There is no journey that will make us proud like your journey to the mosque

Let me tell you a secret, the truth is your journey to the mosque is your journey to meet your Robb

That is the journey your prophet has taught

The journey that will distinguish you from those who forget their Robb

The farthest and the hardest journey for a man is the journey  to the mosque

Then do it, even if you have to crawl in the darkness of pitch-black dawn

For the sake of meeting andknowing your Robb

Oleh: achmadsolechan | Juli 30, 2015

Info Terkini

© COPY LEFT fisikavisiku.wordpress.com

Seluruh artikel dan tulisan di situs fisikavisiku.wordpress.com dapat disebarluaskan, dengan mencantumkan sumbernya.

1. Diktat Kelas XII

2. Remidi Kinematika  dan Soal uh Kinematika New

3. Remidi Optic

Remidi Suhu dan Kalor

5. Remidi Fluida Statis

6. Remidi Elastisitas

7. Remidi Besaran

8. Remidi Vektor

9. Remidi GLB

10. Remidi GMB

11. Remidi Dinamika

Kisi – Kisi UAS

Trial UAS Sem 1

Ulangan harian Dinamika Gerak Lurus

-Dikerjakan dalam waktu 60 menit

-Silakan download hanya soal yang sesuai dengan no. absen Anda lalu Anda      cetak dan kerjakan tanpa  kalkulator, tanpa contekan, tanpa bimbingan    teman, orang tua, kakak, atau guru les.

Ulangan dikerjakan dalam waktu 45 menit

Pengumpulan hasil ulangan paling lambat hari Selasa pukul 07.00  WIB di meja kerja Guru Pengampu

Silakan download hanya soal yang sesuai dengan no. absen Anda lalu Anda cetak dan kerjakan tanpa  kalkulator, tanpa contekan, tanpa bimbingan teman, orang tua, kakak, atau guru les.

Soal terdiri dari soal  uraian dan pilihan ganda tapi wajib disertai cara pengerjaannya

Hari Senin Kelas X MIA 123 Ulangan Harian Gerak Melingkar di Kelas masing-masing waktunya 1jam pelajaran

 

 

Ulangan Harian Bab Besaran dan satuan buat Siswa SMAN 4 Semarang silakan download

Soal di atas di download dan dikerjakan dalam pengawasan kedua orangtua selama 2×45 menit lalu dikumpulkan hari Senin maximal jam 07.30

Ulangan Harian Bab Besaran dan satuan buat Siswa SMKN  8 Semarang silakan download

Kisi-Kisi UKK Sem 2 2014…………….. Silakan download

Soal Pra UKK Sem 2 ………………………Sillakan download

Dikerjakan hari kamis di rumah masing-masing di bawah pengawasan orangtua dalam waktu 60 menit. Hari Jum’at dikumpulkan di meja sayakarya_siswa

Pembahasan UH Teori Kinetik Gas………..Silakan Download

Remidi UH Fluida Statis dan Dinamis…..Silakan Download

Pembahasan UH Fluida Statis…….Silakan download

Pembahasan UH Fluida Dinamis…….Silakan download

Petunjuk Praktikum Fluida Statis:

1. Bejana Berhubungan…..Silakan download

2. Viskositas ……..Silakan download

Baca Lanjutannya…

Oleh: achmadsolechan | Juni 27, 2015

Sesungging Senyuman Sumbing

Jum’at ba’da maghrib kami menempuh safar dari Semarang menuju Temanggung tepatnya di lereng Gunung Sumbing guna menghadiri akad nikah seorang sahabat kami.. Setelah singgah di Bawen untuk menjemput sahabat lainnya maka berangkatlah kami menuju lokasi. Namun saat menuju lokasi, kami salah jalur, hingga hampir tengah malam sampailah kami di monumen meteorit.

Lokasi meteorit jatuh di Temanggung malah jadi tempat pacaran

Monumen ini tidak sebagus foto di atas karena nyaris tanpa penerangan saat malam.

Oleh: achmadsolechan | Mei 21, 2015

Kapan Romadhon Tiba?

Mengapa harus beda?

Penentuan Awal Puasa Ramadhan

Kemungkinan akan terjadi perbedaan dalam penentuan awal puasa ramadhan. Antara ormas yang menggunakan hisab dan rukyah. Sementara pemerintah hrs melalui sidang itsbat. Sebagai muslim, sikap yang tepat bagaimana?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Telah menjadi agenda tahunan bangsa indonesia, polemik penentuan awal bulan ramadhan atau awal bulan syawal. Hampir tidak kita jumpai, kaum muslimin melakukan puasa atau hari raya secara serempak. Terlebih pemerintah negara kita sangat permisif terhadap berbagai perbedaan yang berkembang di tanah air. Selagi di sana tidak ada aduhan, semua orang bebas menyebarkan pemikirannya. Se-sesat apapun ideologi seseorang, Indonesia siap menjadi lahan subur bagi perkembangannya.

Kehadiran berbagai macam kelompok thariqat, yang memiliki metode penentuan tanggal sendiri-sendiri, membuat situasi semakin tidak jelas. Selama pemerintah mengakomodasi setiap metode yang mereka tetapkan, selamanya kaum muslimin indonesia tidak akan pernah berpuasa dan berhari raya secara serempak. Cita-cita untuk menyatukan kalender umat islam, nampaknya hanya akan menjadi harapan kosong yang tidak akan pernah terwujud. Baca Lanjutannya…

Oleh: achmadsolechan | April 25, 2015

Fisika

FISIKA SMA

XXII
XI

Oleh: achmadsolechan | April 21, 2015

Hari ini 41 tahun yang lalu

Semarang, 21 April 2015

Ketika fajar tiba, manusia berbondong-bondong menjawab seruan muadzin menuju rumah-rumah Alloh, mereka adalah orang-orang yang beruntung yang rindu bersua kepada Robb nya. Namun pada saat yang sama sebagian manusia yang tak pandai mensikapi hidupnya malah antri di salon untuk merias diri demi menyambut yang mereka sebut hari emansipasi.

Ya, hari ini, 21 April 2015, hari dimana makin dekat aku menuju ajalku. Berjuta permohonan telah kupanjatkan kepada Mu, namun ni’mat yang Kau berikan melebihi permohonanku. Wahai Robb ku bimbinglah selalu diriku dan matikan aku di puncak penghambaanku kepada Mu.

Baca Lanjutannya…

Oleh: achmadsolechan | April 6, 2015

Ulama Kecilku

Ulama Kecilku

Sayyaf Ulama Kecilku

Sayyaf Ulama Kecilku

 

Wahai Ulama kecilku, sejuta asa kutumpukan pada kedua bahumu. Sungguh ibunda Imam Al Bukhori menangisi anaknya bukan karena mata putranya yang buta di usia belia. Ibunda Imam Bukhori menangis dan berdoa demi kesembuhan mata putranya agar putranya kelak dapat mengarungi lautan ilmu Islam. Dan doa ibunda Imam Bukhori terkabul. Wahai putraku, sungguh selama masa penantian kehadiranmu, cacian bertubi-tubi menerpa orangtuamu. Dan aku berdoa agar aku dikaruniai putra yang kelak dapat tumbuh menjadi seorang ulama. Aku mendidikmu agar kamu tidak tumbuh sepertiku tapi tumbuhlah seperti Imam Bukhori

Wahai Ulama kecilku, ayahanda Imam Syafii menjaga perutnya dari memakan apel yang bukan miliknya. Beliau mencari ridho sang pemilik apel dengan menjadi pelayan pemilik apel selama 3 tahun tanpa digaji dan berkenan menikahi putri pemilik apel dalam keadaan putri itu buta, tuli dan bisu, walaupun mungkin yang dimaksud adalah putri yang buta matanya dari melihat sesuatu yang harom, tuli telinganya dari mendengar sesuatu yang harom dan bisu lisannya dari bertutur sesuatu yang harom….Wal hasil dari pasangan itu terlahir Imam syafii yang memiliki kederdasan dan hafalan yang luar biasa dalam mengarungi lautan ilmu Islam

Wahai putraku, sungguh aku dan istriku tidak sebaik Ayah Ibunya Imam Syafii dalam menjaga dirinya dari sesuatu yang harom, tapi kami berusaha semampu kami dan semoga engkau bisa tumbuh seperti Imam Syafii


Oleh: achmadsolechan | Mei 21, 2014

Pacarmu Bukan Istrimu !!!

Pacarmu Bukan Istrimu !!!

Pacarmu BUKAN istrimu !!!

Pacarmu BUKAN istrimu!

Entah siapa yang memulai tapi kemudian seperti menjadi doktrin atau tradisi kalau remaja itu harus berpacaran. Tidakberpacaran berarti belum komplit menjadi remaja. Ya, itu bukan cuma di Indonesia, tapi setahu saya terjadi di hampir seluruh dunia.

Kalau kamu punya saudara perempuan, kamu pantas cemas. Begitu pula orangtua yang punya anak perempuan. Khawatir godaan pergaulan bebas semakin menjadi-jadi. Baca Lanjutannya…

Oleh: achmadsolechan | April 21, 2014

EMANSIPASI WANITA”. SEBUAH PROPAGANDA MUSUH-MUSUH ISLAM

Oleh : Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi
Hakikat Emansipasi Wanita
Emansipasi wanita tentu bukan lagi ‘barang’ yang asing saat ini. Terlebih istilah itu sering diserukan dan didengungkan baik melalui media cetak, media elektronik, ataupun forum-forum seminar. Emansipasi itu sendiri merupakan gerakan untuk memperoleh pengakuan persamaan kedudukan, derajat serta hak dan kewajiban dalam hukum bagi wanita. (Lihat Kamus Ilmiah Populer)
Lantas siapakah pengusungnya dan apa targetnya? Pengusungnya adalah musuh-musuh Islam. Sementara targetnya adalah untuk menebarkan kebencian terhadap agama Islam dengan menampilkan potret yang bukan sebenarnya. Mereka kesankan bahwa Islam adalah agama yang memasung hak-hak kaum wanita, membelenggu kebebasannya serta mengubur segala potensinya. Target berikutnya adalah untuk menjerumuskan kaum wanita ke dalam jurang kenistaan, manakala terpengaruh dengan syubhat emansipasi tersebut dan melepaskan dirinya dari rambu-rambu dan bimbingan Islam yang suci.
Demikianlah salah satu gerakan propaganda (usaha untuk memanipulasi persepsi) yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Sehingga amat tepat bila gerakan ini disebut dengan GPK (Gerakan Pengacau Keimanan), karena demikian gencarnya upaya yang mereka tempuh untuk mengacaukan keimanan umat Islam (terkhusus kaum wanitanya) dengan intrik manipulasi tersebut.
Menyikapi hal ini umat Islam tak perlu kecil hati, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji untuk menjaga agama Islam dari rongrongan para musuhnya. Bahkan Dia akan senantiasa menyempurnakan cahaya agama Islam tersebut dan memenangkannya. Sebagaimana dalam firman-Nya:
يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ. هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
“Mereka berupaya untuk memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas semua agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (QS. Ash-Shaff: 8-9)
Di antara bentuk penjagaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan penyempurnaan-Nya terhadap cahaya agama Islam adalah dengan dimunculkannya para ulama yang senantiasa menjaganya dari pemutarbalikan pengertian agama yang dilakukan oleh para ekstremis, kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama, dan penakwilan agama yang keliru yang dilakukan oleh orang-orang jahil.
Sejarah Kaum Wanita dalam Peradaban Umat Manusia
Catatan sejarah menunjukkan bahwasanya kehidupan kaum wanita di masa jahiliah amat memprihatinkan. Di kalangan orang Arab jahiliah, kaum wanita amatlah hina. Betapa marah dan malunya mereka bila diberi kabar tentang kelahiran anak wanitanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِاْلأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ. يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلاَ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ
“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar tentang (kelahiran) anak wanita, hitamlah (merah padamlah) mukanya dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-Nahl: 58-59)
Demikian pula pada seluruh umat -selain umat Islam- baik di zaman dahulu maupun di masa kini, kaum wanita (mereka) tak mendapatkan kehormatan yang sepadan dengan nilai-nilai kewanitaannya bahkan kemanusiannya. (Lebih rincinya lihat Al-Huquq wal Wajibat ‘Alar Rijal wan Nisa` fil Islam, karya Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, http://www.rabee.net dan Tanbihat Ala Ahkam Takhtashshu bil Mu`minat, karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan)
Para pembaca yang mulia, lalu bagaimanakah kaum wanita dalam sejarah peradaban Islam? Benarkah haknya dipasung, kebebasannya dibelenggu dan potensinya dipangkas, sebagaimana yang dipropagandakan para pengusung emansipasi?
Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali -hafizhahullah- berkata: “Adapun agama Islam, maka ia telah membebaskan kaum wanita dari belenggu, melepaskannya dari segala bentuk penindasan, kedzaliman, kegelapan, kenistaan dan perbudakan, serta memosisikannya pada posisi dan kedudukan mulia yang belum pernah didapati pada seluruh umat (selain Islam, pen.), baik dia berstatus sebagai ibu, anak, istri ataupun saudara perempuan. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan nilai-nilai kemanusiaannya dari atas langit yang ketujuh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang lelaki dan seorang wanita, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Kaum wanita tak perlu mengadakan muktamar-muktamar, seminar-seminar, atau simposium-simposium, untuk menetapkan nilai-nilai kemanusiaannya berikut hak-haknya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah menetapkannya, dan umat Islam pun mengimaninya.
Kaum wanita berhak berhijrah, dan berhak pula mendapatkan pembelaan dan perlindungan dari kaum mukminin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللهُ أَعْلَمُ بِإِيْمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلاَ تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لاَ هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلاَ هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang berhijrah kepada kalian para wanita yang beriman, maka hendaklah kalian uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kalian telah membuktikan bahwa mereka benar-benar beriman, janganlah kalian kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir dan orang-orang kafir itu tiada halal bagi mereka.” (QS. Al-Mumtahanah: 10)
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan segala bentuk tindakan yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminah tanpa suatu kesalahan yang mereka perbuat.
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminah tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)
Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam siapa saja yang memfitnah (mendatangkan cobaan) kepada (agama) orang-orang mukmin dan mukminah serta enggan bertaubat dengan siksa Jahannam.
إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ
“Sesungguhnya orang-orang yang memfitnah (mendatangkan cobaan) kepada orang-orang mukmin dan mukminah kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka adzab Jahannam dan bagi mereka adzab yang membakar.” (QS. Al-Buruj: 10)
Tak luput pula Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan Rasul-Nya yang mulia untuk memohon ampun dari segala dosanya dan memohonkan ampun bagi (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan wanita.
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Maka ketahuilah, bahwasanya tiada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah dan mohonlah ampun bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan wanita.” (QS. Muhammad: 19)
Apabila musuh-musuh Islam tersebut ingin melihat secercah posisi wanita dalam agama Islam, maka tengoklah jenazahnya saat di antar ke pekuburan dan saat dishalati. Barangkali orang-orang kafir dan munafik itu akan lebih terheran-heran manakala menyaksikan ratusan ribu kaum muslimin di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi yang merapikan shafnya saat menshalati seorang wanita atau seorang bayi wanita.
Demikianlah berbagai keistimewaan dan anugerah Islam untuk wanita mukminah yang tak akan didapati pada agama (selainnya) yang telah menyimpang. Agama baru yang diada-adakan ataupun aturan-aturan semu yang diklaim telah mengangkat harkat dan martabat kaum wanita.
Lebih-lebih di era modern yang dikendalikan oleh Yahudi dan Nashara ini, kaum wanita benar-benar direndahkan dan dihinakan. Mereka dijadikan sebagai komoditas murahan dan obyek kesenangan kaum lelaki. Baik di dunia usaha, tempat kerja ataupun di keramaian. Begitupun di jagad mode serta beragam media (cetak, elektronik, hingga dunia maya). Wanita tampil sekadar benda penghias, baik sebagai SPG, bintang iklan, bintang sampul, dll. Kehormatan kaum wanita diinjak-injak dengan ditampilkannya aurat bahkan foto-foto telanjang mereka di sekian banyak media, demi memuaskan nafsu para lelaki hidung belang dengan pemandangan-pemandangan porno itu. Padahal dampak dari kerusakan ini bisa berupa mata rantai yang panjang. Badan statistik pun bisa-bisa bakal kesulitan untuk mensensus kejadian hamil (di luar nikah) dan jumlah anak jadah/haram.
Ini semua merupakan hasil (baca: akibat) dari aturan-aturan yang mengklaim telah berbuat adil terhadap kaum wanita dan telah memberikan segala haknya, termasuk dalam hal kebebasan dan persamaan hak. Juga sebagai akibat dari opini jahat yang selalu disuarakan sebagai bentuk dukungan terhadap segala aturan dan undang-undang yang menyelisihi ketentuan (syariat) Dzat Yang Maha Pencipta lagi Maha Bijaksana yang dicakup oleh Islam baik yang terdapat dalam Al-Qur`an ataupun As-Sunnah, yang telah memberikan untuk masing-masing dari kaum lelaki dan wanita segala haknya dengan penuh kemuliaan dan keadilan.” (Al-Huquq wal Wajibat ‘alar Rijal wan Nisa` fil Islam, http://www.rabee.net)
Menyoroti Dalih-dalih Emansipasi[1]
Para pembaca, sedemikian bijaknya sikap Islam terhadap kaum wanita dan juga kaum lelaki. Namun para pengusung emansipasi wanita pun masih belum puas terhadap apa yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang Maha Hakim, melalui agama Islam ini. Mereka menyoalnya, menentangnya dan mencemooh Islam dengan slogan-slogan klasik yang acap kali mereka suarakan; “Menuntut persamaan, kebebasan, dan keadilan”. Apapun yang bisa dijadikan dalil diangkatlah sebagai dalil, tak peduli haq ataukah batil.
Padahal dengan gamblangnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan dalam Al-Qur`an:
وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
“Akan tetapi kaum lelaki (para suami), mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada kaum wanita (istrinya).” (QS. Al-Baqarah: 228)
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
“Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, disebabkan Allah telah melebihkan sebagian mereka (lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa`: 34)
Demikian pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang menukilkan perkataan istri ‘Imran):
وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَاْلأُنْثَى
“Dan anak laki-laki itu tak sama dengan anak wanita.” (QS. Ali ‘Imran: 36)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Yaitu dalam hal kekuatan, kesungguhan/ketabahan dalam beribadah dan mengurus Masjid Al-Aqsha.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Para pembaca yang mulia, lebih ironi lagi manakala mereka ‘pelintir’ ayat-ayat Al-Qur`an demi melegalkan tuntutannya. Betapa rendahnya jalan yang mereka tempuh itu. Di antara ayat yang mereka ‘pelintir’ tersebut adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya dengan cara yang ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah: 228)
Sisi pendalilan mereka tentang ayat ini adalah bahwa Islam tidak membedakan antara kaum lelaki dengan kaum wanita dalam semua haknya.
Para pembaca, pendalilan tersebut tidaklah bisa dibenarkan, karena:
– Ayat di atas masih ada kelanjutannya yang jelas-jelas menunjukkan keutamaan kaum lelaki (para suami) atas kaum wanita (para istri). Kelanjutan ayat tersebut adalah:
وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
“…Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.”
– Adanya perbedaan yang mencolok antara kaum lelaki dengan kaum wanita dalam banyak halnya (di antaranya penampilan fisik) yang menjadikan hak dan kewajiban mereka pun berbeda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَوَمَنْ يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ
“Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberikan alasan yang terang dalam pertengkaran?!” (QS. Az-Zukhruf: 18)
Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu berkata: “Abd bin Humaid meriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang tafsir “orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberikan alasan yang terang dalam pertengkaran” bahwa dia adalah kaum wanita. Maka dijadikanlah berbeda antara penampilan mereka (kaum wanita) dengan penampilan kaum lelaki, berbeda pula dalam hal warisan dengan dikuranginya jatah mereka daripada jatah kaum lelaki, demikian pula dalam hal persaksian. Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan mereka untuk duduk (tidak ikut berperang), maka dari itu mereka disebut khawalif (orang-orang yang tidak ikut berperang).” (Fathul Qadir, 4/659)
– Di antara tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah diciptakannya untuk kaum lelaki para istri dari jenis mereka (manusia) juga, supaya kaum lelaki cenderung dan merasa tentram kepadanya serta Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan antara keduanya rasa kasih dan sayang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Manakala kaum wanita diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk (kenikmatan) kaum lelaki dan sebagai tempat untuk merasakan ketentraman dan kasih sayang, maka berarti posisi kaum lelaki di atas kaum wanita. Sehingga ketika seorang wanita (istri) menganggap bahwa dirinya sepadan dengan suaminya dalam segala hak, atau merasa lebih daripada suaminya maka tak akan tercipta lagi suasana tentram dan rasa kasih sayang di antara mereka itu.
– Asal-muasal wanita (Hawa) adalah dari tulang rusuk lelaki (Nabi Adam ‘alaihissalam). Atas dasar itulah, maka kaum lelaki posisinya di atas kaum wanita.
Di antara ayat yang mereka ‘pelintir’ juga adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Sisi pendalilan mereka tentang ayat ini adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hak yang sama antara laki-laki dan wanita yang beriman dalam hal pahala, atas dasar itulah tidak ada perbedaan yang mendasar antara laki-laki dan wanita dalam hak maupun kewajiban kecuali satu kelebihan yaitu memberi nafkah yang merupakan kewajiban laki-laki.
Para pembaca, pendalilan mereka tentang ayat di atas tidaklah benar, bahkan bertentangan dengan syariat dan akal yang sehat, sebagaimana penjelasan berikut ini:
– Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah melebihkan kaum lelaki atas kaum wanita semata-mata karena pemberian nafkah. Bahkan (lebih dari itu) Allah Subhanahu wa Ta’ala melebihkan mereka disebabkan kepemimpinannya atas kaum wanita (para istri). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
“Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, disebabkan Allah telah melebihkan sebagian mereka (lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa`: 34)
– Di antara hikmah diciptakannya kaum wanita oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah untuk (kenikmatan) kaum lelaki di dunia dan juga di akhirat. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan dari nikmat (istri) tersebut nikmat yang berikutnya, yaitu dilahirkannya anak dan cucu sebagai permata hati yang tidaklah dinasabkan kecuali kepada ayahnya; fulan bin fulan atau fulanah binti fulan. Hal ini sebagai bukti akan kelebihan kaum lelaki atas kaum wanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاللهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ
“Allah menjadikan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri dan menjadikan bagi kalian dari para istri itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberi kalian rizki dari yang baik-baik.” (QS. An-Nahl: 72)
– Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingkari (pembagian) orang-orang musyrik yang menjadikan (menganggap) bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai anak, dan anak-Nya adalah wanita. Sementara mereka memilihkan untuk diri mereka sendiri anak laki-laki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَفَرَأَيْتُمُ اللاَّتَ وَالْعُزَّى. وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ اْلأُخْرَى. أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ اْلأُنْثَى. تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَى
“Maka apakah patut bagi kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al-Uzza (milik kalian), dan Manat yang ketiga yang paling terkemudian (sebagai anak wanita Allah)?! Apakah (patut) untuk kalian (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) wanita?! Yang demikian itu tentulah pembagian yang tidak adil.” (QS. An-Najm: 19-22)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Yakni apakah kalian menjadikan (menganggap) bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai anak dan anak-Nya adalah wanita, sementara kalian memilihkan untuk diri kalian sendiri anak laki-laki?! Padahal jika seandainya kalian berbagi (anak) sesama kalian dengan pembagian semacam itu, niscaya itu merupakan pembagian yang tidak adil. Bagaimanakah kalian berbagi dengan Rabb kalian dengan cara seperti itu, sementara bila hal itu diterapkan pada sesama kalian termasuk suatu kejahatan dan kebodohan?!” (Tafsir Ibnu Katsir)
Keterangan di atas menunjukkan bahwa posisi kaum lelaki di atas kaum wanita.
– Di antara balasan mulia bagi orang-orang beriman lagi beramal shalih yang disebutkan dalam Al-Qur`an adalah para istri yang suci di dalam Al-Jannah. Hal ini menunjukkan betapa posisi kaum lelaki di atas kaum wanita baik di dunia maupun di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan beramal shalih, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga (selanjutnya ditulis: Al-Jannah) yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Setiap mereka diberi rizki buah-buahan dalam Al-Jannah itu, mereka mengatakan: ‘Inilah yang dahulu pernah diberikan kepada kami.’ Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalam Al-Jannah tersebut ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 25)
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا. حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا. وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا. وَكَأْسًا دِهَاقًا. لاَ يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلاَ كِذَّابًا
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertaqwa itu suatu kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya (Al-Jannah) mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta.” (QS. An-Naba`: 31-35)
– Seringkali ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan pahala dan kesudahan mulia bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa, dengan mencukupkan penyebutan lafadz laki-laki (mudzakkar) yang dimaukan pula cakupannya untuk kaum wanita. Contohnya; Surat An-Naba` ayat 31-35 di atas, dengan mencukupkan penyebutan lafadz اَلْمُتَّقِينَ yang hakikatnya mencakup pula orang-orang yang beriman dan bertakwa dari kaum wanita. Cara penyebutan seperti ini menunjukkan bahwa kaum lelaki posisinya di atas kaum wanita.
– Kaum wanita adalah orang-orang yang minim dalam hal agama dan akal, sehingga tidaklah bisa disamakan dengan kaum lelaki. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّيْ رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ. فَقُلْنَ: وَبِمَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ، مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ. قُلْنَ: وَمَا نُقْصَانُ دِيْنِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: أَلَيْسَتْ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ؟ قُلْنَ: بَلَى. قَالَ: فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا، أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ قُلْنَ: بَلَى. قَالَ: فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِيْنِهَا.
“Wahai sekalian kaum wanita, bershadaqahlah! Karena aku melihat bahwa kalianlah orang terbanyak yang menghuni neraka (selanjutnya ditulis: An-Naar). Mereka berkata: ‘Dengan sebab apa wahai Rasulullah?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘(Karena) kalian banyak melaknat dan seringkali ingkar terhadap kebaikan (yang diberikan oleh para suami). Aku belum pernah melihat di antara orang-orang yang minim dalam hal agama dan akal yang dapat mengendalikan jiwa seorang lelaki (suami) yang tangguh melainkan seseorang dari kalian.’ Mereka berkata: ‘Sisi apakah yang menunjukkan minimnya agama dan akal kami wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Bukankah persaksian wanita setengah dari persaksian lelaki?’ Mereka berkata: ‘Ya’, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali: ‘Maka itulah di antara keminiman akalnya. Bukankah ketika datang masa haidnya seorang wanita tidak melakukan shalat dan shaum?’ Mereka berkata: ‘Ya’, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menimpalinya: ‘Maka itulah di antara keminiman agamanya.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 304 dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)
Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali -hafizhahullah- berkata: “Dalam hadits ini terdapat kejelasan tentang minimnya agama dan akal wanita. Dan yang nampak bahwa keminiman ini merupakan salah satu sebab banyaknya melaknat dan terjatuhnya mereka ke dalam perbuatan ingkar terhadap kebaikan yang diberikan para suami. Sebagaimana pula dalam hadits ini terdapat kejelasan bahwa persaksian dua wanita sama dengan persaksian satu orang lelaki, yang di antara sebabnya adalah minimnya akal pada mereka.” (Al-Huquq wal Wajibat ‘alar Rijal wan Nisa` fil Islam, http://www.rabee.net)
Penutup
Dari bahasan yang lalu dapatlah disimpulkan bahwa:
Emansipasi wanita adalah gerakan untuk memperoleh pengakuan persamaan kedudukan, derajat serta hak dan kewajiban dalam hukum bagi wanita. Ia merupakan propaganda musuh-musuh Islam yang ditargetkan untuk menebarkan kebencian terhadap agama Islam dan menjerumuskan kaum wanita ke dalam jurang kenistaan.
Agama Islam benar-benar meletakkan kaum wanita pada posisinya yang mulia. Harkat dan martabat mereka diangkat sehingga tak terhinakan, namun tak juga dijunjung setinggi-tingginya hingga menyamai/melebihi kedudukan kaum lelaki.
Semua dalih emansipasi amatlah lemah lagi batil. Bahkan bertentangan dengan norma-norma syariat dan akal yang sehat, sebagaimana yang telah dijelaskan pada sub judul: Menyoroti Dalih-dalih Emansipasi.
Wallahu a’lam bish-shawab.
 _______
FoteNote:
[1] Kebanyakan dari bantahan yang ada dalam sub judul ini, disarikan dari tulisan Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali -hafizhahullah- dalam Al-Huquq wal Wajibat ‘alar Rijal wan Nisa` fil Islam, dengan beberapa perubahan dan tambahan (-pen).

Baca Lanjutannya…

Oleh: achmadsolechan | Maret 12, 2014

Cara Ampuh Agar Bisa Bangun Sholat Shubuh

8 Cara Ampuh Agar Bisa Bangun Sholat Shubuh

Shalat Shubuh merupakan shalat yang paling banyak kaum muslimin lalai darinya, banyak dari bergampang-gampangan  untuk bangun melaksanakan shalat shubuh hingga tak jarang kita melihat orang yang melaksanakan  shalat shubuh sudah lewat dari waktunya.  Shalat shubuh tidak akan bisa dilakukan kecuali orang – orang yang memiliki tekad yang kuat untuk melaksanakannya setelah taufiq dari Allah.

Shalat yang paling berat dilakukan orang munafiq shalat shubuh, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu’ ‘Alaihi Wasallam bersabda: “shalat yang paling berat dikerjakan oleh orang munafik ialah shalat shubuh dan shalat Isya, jika seandainya mereka tau apa yang didalamnya (dari pahala) maka mereka akan mendatanginya walaupun dalam keadaan merangkak” (sunan Ibnu Majah 1/261)

Adapun hukum orang yang malas shalat kami sudah bahas (klik)  Hukum orang yang malas sholat

3 Ikatan Syaithan
Ketika seorang tidur pulas maka syaithon akan mendatanginya dan mengikat kepalanya dengan tiga ikatan, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasuullah :
“Syaithan akan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang diantara kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “malam masih panjang, tidurlah!” jika dia bangun lalu berdzikir kepada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan sholat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan berseangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.

Jika anda melihat orang- orang malas dipagi hari maka kemungkinan besar ikatan syaithan yang diikat pada malam hari belum terlepas dari tengkuk lehernya.

Agar Bisa Bangun Shalat Shubuh

1. Niat Ikhlas
Seorang jika ingin melakukan sesuatu harus ada niat yang kuat untuk mewujudkannya, begitu juga dengan shalat shubuh, anda harus berniat sebelum tidur agar Allah membantu anda untuk bisa menunaikan shalat shubuh secara berjama’ah dan janganlah seperti orang munafik, yang mana mereka ketika bangun shalat mereka bermalas – malasan ini menunjukkan bahwa orang munfik jika ingin shalat tidak berniat melaksanakannya karena Allah tapi karena Riya’  sebagaimana Allah Berfirman : “apabila mereka berdiri untuk shalat mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali (An-Nisa : 142)

2. Tekad yang kuat

Seorang muslim jika ingin melakukan suatu hal maka dia harus memiliki tekad yang kuat, dengan niat yang kuat dan tekad yang kuat ini bisa melumpuhkan senjata Iblis yang senatiasa menggoda manusia tanpa mengenal lelah dan putus asa. Rasulullah Bersabda : “Bersemangatlah untuk melakukan yang bermanfaat bagimu dan minta pertolonganlah kepada Allah dan jangan putus asa” (HR. Muslim)
begitu juga orang yang inginmelaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah, maka wajib baginya untuk memiliki tekad yang kuat dan memiliki tekad kuat Allah akan membantu anda sebagaimana Allah berfirman “dan orang – orang yang bersungguh sungguh dijalan kami, maka kami akan tunjukkan mereka jalan – jalan kami. Dan sungguh Allah beserta orang – orang yang berbuat baik.

3. Menjahui Dosa
Seorang yang senantiasa malas dalam melakukan shalat maka penyebab utamanya ialah dosa yang dia lakukan disiang dan malam hari. Ketika seorang hamba terjerumus kedalam suatu dosa maka dia akan diberikan satu titik hitam didalam hatinya, semakin banyak dosa dan maksiat yang ia lakukan maka semakin banyak pula titik hitam yang menghinggap dihatinya hingga suatu saat  ia tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar hingga hatinya lemah untuk melakukan kebaikan dan diantara kebaikan yang terhalang darinya ialah bangun shalat shubuh tepat waktu

4. Tidak Banyak Makan Sebelum Tidur
Bangun shalat shubuh dari tidur yang nyenyak butuh perjuangan untuk melawan iblis dan hawa nafsu, orang yang makan banyak  sebelum tidur bisa mengakibatkan berat untuk bisa bangun.

Imam Syafi’I mengatakan : “kekenyangan membuat badan menjadi berat, menghilangkan kecerdasan, membawa orang (untuk tetap) ingin tidur, dan membuat seseorang malas beribadah. (Al-Umur Almuyassaroh liqiyamil lail Hal 66)

5. Jangan Begadang
Begadang yang tidak bermanfaat sampai menyebabkan ia  meninggalkan kewajiban shalat dapat mendatangkan dosa. Betapa banyak kita melihat orang – orang yang malamnya begadang untuk menonton Tv, sepak bola, dan lain lain bahkan hingga waktu subuh, sehingga melalaikan ia untuk melaksanakan shalat shubuh karena ditimpa ngantuk yang sangat berat sehingga tak jarang kita melihat orang yang begadang senantiasa shalat shubuh diluar waktunya bahkan banyak yang meninggalkan shalat shubuh
Jika tidak ada kebutuhan untuk begadang maka tidurlah lebih awal, karena tidur lebih awal merupakan sunnah Rasulullah. Sebagaimana dalam hadits :
Dari Abi Ishaq mengatakan : saya bertanya kepada ‘Aisyah tentang shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka (Aisyah) menjawab : (Rasulullah) tidur awal malam, ketika datang waktu sahur dia shalat witir… (HR. Abu Daud)

6. Mengikuti sunnah Rasulullah sebelum tidur

Hendaknya sebelum kita beranjak untuk tidur hendaknya berwudhu sebagaimana wudhu yang biasa dilakukan sebelum kita shalat kemudian bacalah ayat kursi karena orang yang membaca ayat kursi sebelum tidur tidak akan diganggu oleh Syetan, sebagaimana Rasulullah bersabda : “Jika engkau hendak tidur, maka bacalah ayat kursi. Karena jika dia senantiasa bersama engkau, maka Allah akan menjagamu, dan syetan tidak akan mendekatimu” (HR. Bukhari)

7. Menyalakan Alarm
Setiap orang memiliki handphone, dan setiap hanphone telah dilengkapi oleh alarm maka hendaklah sebelum kita tidur untuk menyalakan alarm agar bisa terbangun untuk melakukan shalat shubuh dengan tepat waktu atau berpesan kepada orang yang tinggal yang  seatap dengan kita untuk membangunkan tatkala datang waktu shalat shubuh.

8. Doa
Berdoalah kepada Allah agar urusan kita dimudahkan karena dialah yang mengatur segala urusan

Muh. Luqman Hakim
Jember, 26-04-2015 jam 11:00
http://www.penaluqman.com

 

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.